Hello everyone….
Filed under: Uncategorized | 1 Comment »
Bukan karena aku tidak paham dengan masalah itu, tetapi dengan menuli dan membuta, dirku merasa lebih nyaman. Tidak dapat aku pungkiri, bahwa gejolak yang selama ini bergelora dalam dada, adalah percikan dara-darah mudaku, yang terlalu menggebu dalam desingan peluru kehidupan.
Tak dapat aku bayangkan, ataupun aku ingkari bahkan sejenak, bahwa semua yang aku lakukan pun tak akan pernah dipahat dalam nisan kehidupan selama-lamanya. Sekedar menghias hari, pada waktu di mana aku secara tak sengaja menerpa sang angin dan sampai pada kondisi ini.
Apakah kau juga rasakan itu? Beribu tanya aku pendam, dan hanya satu saja yang tersurat dalam kata. Malang, atau aku hanya merasa ingin dikasihani, sampai untuk berdiri tegak saja aku memerlukan bantuan, setidaknya dari tongkat yang saat ini mulai lapuk oleh waktu.
Selama-lamanya, hanya kegetiran menyambangiku. Atau aku hanya butuh belaian kasih sayang dari yang tak pernah memberiku sayang? Tuhan pasti tahu, aku terpasung dalm ego, lalu perlahan sekarat oleh kehendak egoku itu. Tak ada yang perlu disalahkan, hanya aku yang harus memulai semuanya, itupun jika aku mampu memulai. Sedangkan ragaku, lebih parah jiwaku, menari dalam keterlimbungan visi hidup. Yah, semua hanya selalu berputar-putar saja. Tak pernah ada kejelasan.
Merintih dan mengiba selalu menghasilkan luka baru. Tetapi berjuang dan belajar berdiri setelah terjatuh membuatku makin renta. Renta fisik, renta akal dan renta jiwa. Menyatu dalam kegelapan malam yang akhir-akhir ini seolah lebih akrab dengan batinku. Dia bisa menjerit, menangis, atau sekedar menertawakan aku dalam pekatnya malam gulita.
Apa hanya sampai di sini perjuanganku? TIDAK. Aku tak mau hidup hanya dengan ini, dan mati tanpa menggoreskan sejarah nan gemilang. Apa aku begitu sombong Kawan? Apa aku terlalu naif untuk menyadari, bahwa aku mungkin tak setegar batu karang dihempas ombak lautan?
Sekedar kau tahu, semua mimpi-mimpi itu mulai tercerai, atau mungkin dia sedang bermetamorfosa bagai puzzle dalam kepingan-kepingan hidupku. Semua seolah tak nyata. Tapi dengan setegar cinta, kau lantangkan bahwa kau mau berusaha menerimaku. Apa bukan hal yang hebat? Aku yang bukan apa-apa dengamu yang selalu memberi untuk semua.
Kita akan belajar bersama, belajar menipu kehidupan, atau sekedar memberi perlawanan, agar hidup kita tak sekedar hidup yang sia-sia belaka.
Filed under: Kehidupan | Leave a Comment »
Cinta….Apa itu cinta? Beribu filsuf dan penyair mencoba mendefinisikan makna cinta. Tetapi, hasilnya, tak pernah ada kesepakatan kolektif atas sebuah kata yang terdiri dari lima huruf itu: C-I-N-T-A.
Filed under: Cinta, Kehidupan | 3 Comments »
“Menua bersama waktu tapi jangan lapuk karena usia….”
Sebuah pesan dari seorang kakak pada hari dimana dalam hitungan penanggalan Masehi, umurku telah genap 22 tahun. Hufh…. Waktu berjalan begitu cepat, sampai tak terasa, kesempatanku hidup di dunia telah terlampaui sekian banyak m
asa.
Aku bertanya, dalam kontemplasi dan refleksi atas berkurangnya jatah waktuku menghirup oksigen –seperti satu tahun yang lalu- “Apakah aku telah cukup berbekal untuk menghadap Sang Khalik saat waktu yang tak tahu kapan datangnya itu menghampiri dengan Malakul Maut sebagai perantara terpisahnya roh dari jasadku?” Kadang membuat bulu kuduk dan wajahku tak teratur… Kadang, membuatku bersemangat untuk melakukan banyak kemanfaatan sebelum aku meninggalkan dunia yang fana…
Sebuah anugrah ternyata, saat sisi melankolis menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku. Aku berpikir akan sesuatu yang memang semestinya harus aku pikirkan. Dan saat aku menulis ini pun, pikiran itu hampir liar menelisik tiap sudut kehidupan yang bahkan tak pernah aku alami sendiri.
Masih ada waktu. Yap, optimisme untuk melakukan yang terbaik dalam hidup sebelum tua menggerogoti atau ajal menyudahi. Masih ada kesempatan. Bagi kita semua. Saat kita masih memiliki fisik dan jiwa yang sehat. Lalu, apa lagi yang kita tunggu Kawan?
Rekonstruksi hidup harus dijalankan, dengan atau tanpa dukungan dari seorangpun, karena kita harus percaya, hanya kita, dengan ijinNya yang bisa merubah kondisi kita sendiri. Tak peduli akan cemooh dan kontradiksi individu, yang jelas, ijtihad ini harus dituntaskan sampai maksimal, setidaknya sampai aku terjatuh dan tak kan mungkin bisa bangun lagi.
Dengan semangat itu, rekonstruksi Indonesia pun (yang saat ini berusia 65 tahun) akan terjadi. Memberikan nafas-nafas kemerdekaan yang hakiki yang kan melambungkan semua potensi. Dengan semangat itu, usia yang semakin bertambah, baru akan bisa dinikmati dengan kerja keras dan usaha maksimal. Dengan semangat itu, kita pasti bisa menjadi bagian dari orang-orang menyejarah yang telah menorehkan prestasi, tentunya dengan tanpa berpangku tangan, tetapi dengan perjuangan….
Filed under: Kehidupan, Sejarah | 2 Comments »
“Kalau saja hidup ini mudah, maka tak kan ada yang kan menjadi pemenang.”
Status itu aku tulis di FB beberapa waktu yang lalu, setelah mengalami (lagi-lagi) masa perenungan yang panjang. (hufh, dasar melankolis). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa hidup ini semakin lama semakin “memberatkan”, terutama segala yang berhubungan dengan konteks keduniaan. Read more »
Filed under: Kehidupan, Mumet | Leave a Comment »
Lama tak aku tulis untauan kata dalam blog ini sejak beberapa waktu lalu. gak tahu, adakah yang menungguku menulis tulisan-tulisan tak bermutu yang lebih sering hanya merupakan luapan amarah, emosi, kekecewaan dan kritik-kritik atas semua masalah dalam lingkupan hidupku. Dengan kata lain, hanya tulisan egoistis yang “terpaksa” harus aku tulis untuk tidak “meledak” di tempat yang lebih tidak tepat.
Hufh, sekali lagi, perasaan mengganjal ini harus aku sampaikan dalam tulisan tak ilmiah ini. Sangat kontras dengan judulnya yang berbau keilmiahan. Apakah itu? Sedang menyesali kondisi rekan-rekan yang secara logika tidak memakai pendekatan ilmiah dalam aktivitas kesehariannya, padahal secara de jure memiliki status mahasiswa. lalu, apakah itu pendekatan ilmiah? Menurut Dr. Harsono, M.S. (Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta)pendekatan ilmiah adalah cara-cara atau langkah-langkah tertentu agar dapat dicapai pengetahuan yang benar mengenai hal yang dipertanyakannya. Dengan pengertian ini, tentu dituntut satu hal mendasar dalam proses pencarian kebenaran, yaitu referensi ilmiah yang memadai. Sayangnya, hal tersebut jauh dari kondisi rekan-rekan penulis. Mereka cenderung menggunakan logika pribadi yang kadang tak berdasar kuat. Sebagai contoh, dalam diskusi membahas suatu masalah, lebih banyak kata “Menurut saya….” dari pada “Dalam buku blablabla…”
Dalam kacamata yang lebih besar, pemahaman mengenai pendekatan ilmiah ini sangat erat dengan kondisi kultur sosial yang terbentuk dalam masyarakat. Penulis memang secara empiris belum menemukan adanya penelitian yang menyebutkan bahwa kultur sosial di lingkungan penulis tidak ilmiah. Namun, secara umum gejala “jauh dari literatur” ini cukup sederhana untuk dipahami.
Nah, itu ratapan atas “nasib” penulis. lalu bagaimana agar terbentuk iklim kultural yang ilmiah. Dimas Bayu Susanto, mantan Presiden BEM UNS tahun 2006 pernah menyampaikan kepada penulis, “hendaknya kalian membudayakan tiga hal untuk menciptakan kultur ilmiah, yaitu: membaca, diskusi dan menulis”. Sederhana, tetapi sampai saat ini, orang-orang yang juga pernah mendapatkan nasehat ini belum menunjukkan hasil akan adanya penciptaan kultur ilmiah.
Merujuk kepada Teori Paradigma Thomas Kuhn, bahwa memang untuk mengubah kondisi sosial yang pertama kali harus dilakukan adalah merubah paradigma. Sayangnya, dalam kondisi relatif “aman” ini, kebanyakan rekan-rekan penulis memilih untuk tidak mengambangkan kultur ilmiah. Padahal jelas, menurut Joko Suryanto (mahasiswa S2 Sosiologi UGM yang saat ini sedang menyelesaikan tesis), tuntutan zaman yang harus dijawab oleh generasi muda sekarang dapat diawali dengan pembentukan kultur ilmiah dalam diri-diri “pejuang muda” yang kelak akan memimpin bangsa ini.
Saatnya kita keluar dari area nyaman. Dobrak zaman, buat perubahan. Walau memang, menurut paham Komunis, revolusi itu butuh tumbal. Siapa yang akan berani memulainya?
(ditunggu langkah kongkretnya!! SEGERA!!!)
Filed under: Kehidupan, Mahasiswa | 1 Comment »
Waktu berputar, lalu sekarang tiba-tiba aku sudah di sini, dalam keadaan ini. Dalam masa penantian yang entah akan sampai kapan aku jalani.
Dulu sempat kusesali, namun sekarang, aku menjadi semakin yakin bahwa semua ini adalah skenario terbaik dariNya untukku. Bayangpun jika aku harus mendapat “alur hidup” sesuai dengan proyeksi manusia-manusia lain di sekitarku, aku pasti tak kan sembuh dari bronchitis yang menggerogoti paru-paruku. Atau aku tak kan bisa mengerjakan tugas-tugas kuliahku secara lebih fokus. Atau aku tak akan pernah bertemu dan berproses bersama kakak-kakak yang luar biasa. Semua hanya karena Dia lebih memahami hidupku, bahakan dibandingkan aku yang lemah ini.
Namun kadang, aku rindu masa-masa itu, saat semangatku berapi-api, bahkan karenanya aku terbakar sendiri…hahahahaha. Lucu mengingatnya sebagai bagian dari perjalanan sejarah diri. Aku rindu saat idealismeku harus beradu dengan idealisme lain atau bertempur melawan realita kultural, bahwa Solo adalah tempat yang stagnan (menurutku), yang tabu akan perubahan.
Sekarang, aku telah memahami, hidup adalah jalan panjang menuju tujuan akhir yang kadang tidak kita pahami. Jalani, dan semua akan berakhir dengan indah pada saat yang tepat nanti…..
Filed under: Kehidupan, Sejarah | 2 Comments »
Tidak banyak yang berubah pasca aku memahami semua ini. Hanya sebatas pengertian dan sedikit kebijaksanaan untuk tidak berbuat nekat dalam bertindak. Sayangnya, hal itu belumlah cukup membawa perbaikan atas sebuah kondisi yang aku pahami sebagai kondisi jumud ini.
Apa yang terngiang di kepala orang-orang ketika mereka tahu bahwa ternyata aku mengetahui apa yang tidak mereka ketahui??? Marahkah? Kesal? Bangga? Member apresiasi? Atau apa? Aku sekarang tidak mempedulikan itu lagi. Seorang mas memberiku nasehat,Ketika orang-orang itu memberitakan sesuatu yang tidak benar atas dirimu, maka mbudegi dan micekilah. Arti mbidegi adalah bersikap seolah-olah tidak mendengar,sedangkan miceki adalah bersikap seolah-olah tidak melihat.
Konteks kejadian yang berlalu dalam tempo sekitar satu tahun ini member gambaran semu akan ketidak tahuan, apakah akan terlewati denngan lancar, ataukah akan berubah haluan (lagi)? Yang jelas, pengembaraan hidup tanpa henti ini hanya memakai salah satu petuah bijak yang aku lupa siapa yang menyampaikannya,Suatu saat nanti, saat kita sudah tua, kita akan banyak menyesal. Tetapi, kita menyesal bukan karena banyaknya kegagalan yang kita lalui, kita akan menyesal karena kita tidak melakukan banyak hal dalam hidup ini.
Masih diberikan kesempatan waktu sampai nafas ini beredar selama dua puluh satu tahun,Alhamdulillah, entah berapa waktu lagi tersisa menghirup oksigen gratis di bumi ini. Semoga sisa umur ini akan lebih mendewasakan diri dalam menghadapi kerasnya hidup di depan nanti.
Filed under: Kehidupan | 3 Comments »
Semua yang terjadi akan menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan masa depan kita di depan. Hal tersebut dapat terjadi jika kita mau menjadi orang yang menghargai sejarah. Sukarno pernah mengatakan “JAS MERAH, Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Yah, orang yang mau belajar dari sejarah akan lebih arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan se-tidak penting apapun keputusan itu, apalagi keputusan yang bersifat penting dan berkaitan langsung dengan orang banyak atau publik.
Dalam kitab Suci Al Qur’an, banyak diceritakan sejarah masa lalu, baik berupa kekafiran umat yang akhirnya mendapat adzab ataukah keshalihan seorang Rosul, Nabi, dan orang-orang beriman beserta balasan atas amal sholeh mereka. Hal ini menegaskan, bahwa kita sama sekali tidak bisa melupakan begitu saja sejarah. Tidak dalam konteks mengutuk kekalahan Perang Uhud dan mengagungkan Perang Khandak, tetapi belajar nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut sehingga lebih “calm down” dalam bersikap terhadap sebuah realita dan fenomena, alias tidak menjadi orang-orang yang reksioner.
Saya ingat, ketika kecil, waktu masih biasa menggunakan buku merk SIDU (Sinar Dunia)—–(tidak bermaksud promosi), terdapat tulisan “Experience is the best teacher”. Semoga kita mau belajar dari sejarah. maka, marilah belajar tentang SEJARAH…..
(tulisan ini juga pernah diposting di catatan FB pada 23 Juli 2009 jam 10:33)
Filed under: Kehidupan, Sejarah | 1 Comment »
Bermula dari sebuah pemahaman, maka apapun yang kita lakukan akan memberikan makna yang mungkin tidak dapat dipahami secara parsial. Pengertian tersebut tentu memiliki kaitan dengan adanya sebuah fenomena yang kadang disikapi secara tidak dewasa. Yah, pembahasan tentang konflik seringkali hanya berujung pada peng-kambing hitam-an salah satu atau beberapa pihak. Secara alamiah, seseorang akan mencari pembenaran atas tindakannya melalui jalan menyalahkan pihak lain. Secara psikologis, mekanisme ini dilakukan untuk mengurangi tekanan psikologis individu agar tidak “meledak”. Sayangnya, pemahaman tentang konflik ini seringkali tidak diimbangi dengan kekuatan psikologis sehingga terdapat beberapa pihak yang dirugikan walaupun sebenarnya secara substantif mereka tidak berhak mendapat status “bersalah”.
Adalah Ralp Dahrendorf, seorang ahli sosiologi yang mencetuskan Teori Konflik. Teori ini menjelaskan bahwa masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang di tandai pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya. Teori ini menilai bahwa keteraturan yang terdapat dalam masyarakat hanyalah disebabkan karena adanya pemaksaan /tekanan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa. Konsep teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduanya merupakan fakta sosial.
Dahrendorf berpendapat bahwa konsep-konsep seperti kepentingan nyata dan kepentingan laten,kelompok kepentingan dan kelompok semu, posisi dan wewenang merupakan unsur-unsur dasar untuk dapat menerangkan bentuk-bentuk dari konflik.
Sementara itu Berghe mengemukakan empat fungsi dari konflik yaitu :
1.Sebagai alat untuk memelihara solidaritas.
2.Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain.
3.Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.
4.Fungsi komunikasi,sebelum konflik kelompok tertentu mungkin tidak mengetahui posisi lawan.Tapi dengan adanya konflik,posisi dan batas antara kelompok menjadi lebih jelas.
Jadi, segenting apapun keadaan, jika kita dapat melihat hal tersebut dari berbagai sisi, niscaya kita akan mendapatkan hikmah-hikmah di belakang kejadian. Tentu, kemampuan analisis SWOT untuk menentukan kondisi ini juga harus terus diasah agar kita tidak menjadi orang yang “grusah-grusuh” dalam menyikapi persoalan.
Filed under: Kehidupan, Mumet | Leave a Comment »